Trump Klaim Jutaan Barel Minyak Kembali Melintasi Selat Hormuz di Tengah Ketegangan Iran
WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan jutaan barel minyak kembali mengalir melalui Selat Hormuz setiap hari. Pernyataan itu muncul ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih membayangi jalur energi strategis tersebut.
Trump menyampaikan pernyataan itu di Gedung Putih pada Kamis, 27 Agustus 2026. Ia mengklaim Selat Hormuz tetap terbuka untuk pengiriman minyak meski operasi militer dan blokade terhadap Iran masih berlangsung.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar energi. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Trump Klaim Selat Hormuz Tetap Terbuka
Trump menegaskan bahwa kapal-kapal masih dapat melintasi jalur tersebut. Ia juga mengklaim Amerika Serikat memiliki kendali atas aktivitas maritim di kawasan itu.
Menurut Trump, “millions and millions of barrels” minyak keluar melalui Selat Hormuz setiap hari. Ia juga mengatakan pasukan AS terus memantau kapal yang melintas.
Trump turut menyatakan pasukan Amerika telah membersihkan ranjau dari jalur pelayaran.
Pemerintah AS sebelumnya memang menyebut militernya membantu kapal komersial melewati kawasan tersebut. CENTCOM menyatakan sekitar 1.300 kapal komersial telah melintasi Hormuz sejak awal Mei hingga 21 Agustus. Total minyak yang diangkut mencapai lebih dari 660 juta barel menurut angka militer AS.
Arus Minyak Belum Kembali Normal
Meski minyak kembali bergerak, kondisi Selat Hormuz belum sepenuhnya normal.
Reuters melaporkan pada Jumat, 28 Agustus, pasar masih mempertimbangkan terbatasnya aliran minyak melalui selat tersebut. Ketidakpastian hubungan Washington dan Teheran juga terus memengaruhi harga minyak.
Estimasi pelaku pasar menunjukkan sekitar 6 juta hingga 8 juta barel minyak mentah per hari kini dikirim melalui Hormuz. Angka itu masih sekitar separuh dari tingkat sebelum perang.
Karena itu, klaim Trump mengenai besarnya arus minyak perlu ditempatkan dalam konteks tersebut.
Sejumlah perusahaan pelacak kapal sebelumnya juga kesulitan memverifikasi seluruh volume yang diklaim pemerintah Amerika. Kapal yang beroperasi dengan transponder mati menjadi salah satu faktor yang membuat perhitungan berbeda.
AS Bangun Koridor Pelayaran
Amerika Serikat sebelumnya membantu membentuk jalur pelayaran di bagian selatan Selat Hormuz.
Axios melaporkan bahwa sekitar 15 hingga 20 tanker masuk dan keluar setiap malam melalui jalur di dekat pantai Oman. Pejabat AS memperkirakan sekitar 10 juta barel minyak per hari dapat bergerak melalui operasi tersebut.
Namun, angka itu berasal dari pejabat pemerintah AS. Data pemantauan independen menunjukkan estimasi yang berbeda.
Perbedaan tersebut membuat volume sebenarnya menjadi salah satu isu penting bagi pasar minyak global.
Iran Siapkan Syarat Pembukaan Hormuz
Di sisi lain, Iran menyatakan akan menyusun sejumlah persyaratan untuk memulihkan lalu lintas normal di Selat Hormuz.
Reuters melaporkan mediator regional kembali meningkatkan upaya diplomatik pada 28 Agustus. Qatar, Oman, dan negara lain mendorong pembicaraan mengenai kebebasan navigasi di kawasan tersebut.
Teheran telah menyatakan kesediaannya menyusun daftar syarat untuk mengembalikan lalu lintas normal.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa status Selat Hormuz masih menjadi bagian penting dalam diplomasi antara Iran, Amerika Serikat, dan negara-negara kawasan.
Harga Minyak Masih Tertekan Ketidakpastian
Situasi Hormuz juga terus memengaruhi pasar energi.
Pada Jumat, harga minyak Brent berada sekitar US$89,66 per barel dalam perdagangan pagi London. Sementara West Texas Intermediate berada sekitar US$83,21 per barel.
Brent bahkan menuju penurunan mingguan sekitar 5,1 persen. WTI juga berpotensi turun sekitar 4,5 persen dalam sepekan.
Pasar kini memperhatikan dua perkembangan utama. Pertama, peningkatan pengiriman minyak melalui Hormuz. Kedua, perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Dengan demikian, klaim Trump soal minyak di Selat Hormuz menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pengiriman. Namun, volume aktual yang melewati jalur tersebut masih memiliki perbedaan estimasi antara pemerintah AS dan pemantau pasar.