Delapan Negara Bersatu Kecam Israel, Peta Jalan Perdamaian Gaza Terancam Terhambat
ANKARA – Delapan negara menyampaikan sikap bersama terkait perkembangan peta jalan perdamaian Gaza. Turki bersama tujuh negara lainnya mengecam penolakan Israel terhadap rencana yang ditujukan untuk mendorong penyelesaian konflik di Gaza.
Pernyataan bersama tersebut melibatkan Turki, Indonesia, Mesir, Yordania, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Pakistan. Para menteri luar negeri negara tersebut menilai penolakan Israel dapat menghambat upaya diplomatik yang sedang berlangsung.
Selain itu, mereka mendorong keterlibatan Amerika Serikat secara berkelanjutan. Tujuannya agar seluruh pihak mematuhi peta jalan yang telah disusun.
Delapan Negara Kecam Penolakan Israel
Dalam pernyataan bersama, delapan negara tersebut menyampaikan kekhawatiran atas posisi Israel. Mereka menilai penolakan terhadap peta jalan perdamaian Gaza dapat menggagalkan momentum diplomasi yang sedang dibangun.
Para menteri luar negeri juga menegaskan dukungan terhadap upaya mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Selain itu, mereka meminta komitmen dari seluruh pihak yang terlibat.
Peta jalan tersebut berkaitan dengan implementasi lebih lanjut dari rencana perdamaian Gaza yang didukung pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Rencana itu antara lain mencakup penghentian permusuhan, penarikan pasukan Israel, perlucutan senjata Hamas, dan rekonstruksi Gaza.
Namun, Israel menyatakan keberatan terhadap sejumlah bagian dalam peta jalan tersebut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga telah menyampaikan penolakannya terhadap beberapa ketentuan yang diusulkan.
Indonesia Ikut Tandatangani Pernyataan Bersama
Indonesia menjadi salah satu negara yang mengambil posisi dalam pernyataan tersebut. Bersama tujuh negara lainnya, Indonesia menekankan pentingnya melanjutkan proses perdamaian.
Selain Indonesia dan Turki, pernyataan itu didukung sejumlah negara yang terlibat aktif dalam diplomasi kawasan. Mesir dan Qatar, misalnya, selama ini memiliki peran dalam proses mediasi Gaza.
Sementara itu, Yordania, Arab Saudi, UEA, dan Pakistan turut menyatakan penolakan terhadap sikap Israel. Mereka menilai momentum diplomasi perlu dijaga agar proses perdamaian tidak kembali menemui jalan buntu.
Karena itu, kedelapan negara meminta Amerika Serikat mempertahankan keterlibatannya dalam proses tersebut.
Diplomasi Gaza Terus Berjalan
Di tengah ketegangan tersebut, proses diplomasi masih berlangsung. Utusan Amerika Serikat Jared Kushner dan utusan Board of Peace Nickolay Mladenov melakukan pembicaraan dengan mediator Mesir, Qatar, dan Turki di Kairo.
Pertemuan itu bertujuan mendorong kelanjutan peta jalan perdamaian Gaza. Perwakilan Hamas juga terlibat dalam sebagian pembicaraan.
Selain itu, Kushner melakukan pertemuan langka dengan pemimpin Hamas Khalil al-Hayya di Kairo. Pertemuan tersebut membahas upaya menghidupkan kembali kemajuan dalam pelaksanaan peta jalan Gaza.
Hamas menyatakan komitmennya terhadap proses tersebut dengan sejumlah persyaratan. Sementara itu, persoalan perlucutan senjata dan penarikan pasukan Israel tetap menjadi bagian penting dalam negosiasi.
Penolakan Israel Dikhawatirkan Ganggu Proses Perdamaian
Delapan negara menilai perkembangan terbaru dapat menentukan masa depan proses perdamaian. Sebab, implementasi peta jalan membutuhkan komitmen dari seluruh pihak.
Karena itu, mereka memperingatkan bahwa penolakan Israel dapat merusak upaya kolektif untuk mengakhiri konflik. Mereka juga menekankan pentingnya menjaga momentum diplomatik yang telah terbentuk.
Di sisi lain, pembicaraan internasional masih terus berlangsung. Para mediator berusaha mempertemukan posisi yang berbeda antara Israel dan Hamas.
Dengan demikian, masa depan peta jalan perdamaian Gaza masih bergantung pada hasil diplomasi berikutnya. Turki, Indonesia, dan enam negara lainnya berharap keterlibatan internasional dapat mendorong seluruh pihak menjalankan kesepakatan.