Danantara Siapkan Transformasi Besar PGN, Bisnis Gas Bakal Fokus ke Hilir
Jakarta – Transformasi bisnis PGN memasuki babak baru. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara menyiapkan perubahan besar terhadap arah bisnis perusahaan gas tersebut.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan PGN tidak lagi diarahkan bermain dari hulu hingga hilir. Sebaliknya, perusahaan akan lebih fokus pada sektor midstream dan downstream.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari penataan bisnis BUMN. Selain meningkatkan efisiensi, langkah ini diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional.
Transformasi Bisnis PGN Fokus ke Midstream dan Downstream
PGN selama ini memiliki peran penting dalam bisnis gas nasional. Namun, Danantara ingin membuat peran setiap perusahaan BUMN menjadi lebih jelas.
Karena itu, PGN akan diarahkan untuk memperkuat bisnis midstream dan downstream. Fokusnya mencakup transmisi, infrastruktur, serta distribusi gas kepada konsumen.
Sementara itu, bisnis hulu bukan lagi menjadi fokus utama PGN. Dengan pembagian tersebut, perusahaan diharapkan dapat mengoptimalkan kemampuan yang sudah dimiliki.
Langkah ini juga berkaitan dengan pengembangan jaringan gas atau jargas. Pemerintah ingin semakin banyak rumah tangga mendapatkan akses gas melalui jaringan pipa.
Jaringan Gas Rumah Tangga Jadi Perhatian
Pengembangan jargas menjadi salah satu bagian penting dalam strategi tersebut. Sebab, Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap LPG.
Dony sebelumnya menjelaskan bahwa PGN akan diarahkan untuk mendistribusikan gas ke rumah-rumah. Dengan demikian, masyarakat diharapkan memiliki alternatif energi selain LPG.
PGN sendiri telah memiliki infrastruktur gas di berbagai wilayah. Hingga akhir 2025, lebih dari 821 ribu rumah tangga di 18 provinsi telah tersambung jaringan gas.
Selain itu, jaringan tersebut telah menjangkau 74 kabupaten dan kota. PGN juga mengoperasikan puluhan ribu kilometer jaringan pipa transmisi dan distribusi.
Danantara Ingin Kurangi Ketergantungan Impor
Transformasi PGN juga berkaitan dengan agenda ketahanan energi. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah tingginya kebutuhan LPG impor.
Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya gas yang besar. Namun, pemanfaatannya untuk kebutuhan domestik masih perlu diperkuat.
Oleh karena itu, distribusi gas menjadi salah satu sektor yang ingin dioptimalkan. Pemerintah juga mengembangkan alternatif lain, termasuk dimetil eter atau DME sebagai substitusi LPG.
Jika penggunaan energi domestik meningkat, kebutuhan impor diharapkan dapat berkurang. Selain itu, tekanan terhadap devisa negara juga dapat ditekan.
PGN Tetap Punya Peran Strategis
Perubahan model bisnis bukan berarti peran PGN menjadi lebih kecil. Sebaliknya, perusahaan akan memiliki fokus yang lebih spesifik dalam ekosistem energi nasional.
Infrastruktur menjadi salah satu kekuatan utama PGN. Karena itu, pengembangan jaringan pipa dan distribusi gas akan semakin penting.
Selain rumah tangga, gas bumi juga dibutuhkan oleh industri dan pelanggan komersial. Ketersediaan infrastruktur yang memadai dapat membantu gas menjangkau konsumen secara lebih luas.
Danantara menilai pembagian peran yang lebih jelas dapat meningkatkan efisiensi BUMN. Strategi tersebut juga menjadi bagian dari penataan portofolio perusahaan milik negara.
Transformasi PGN Didorong Perkuat Ketahanan Energi
Ke depan, transformasi bisnis PGN akan diarahkan pada penguatan infrastruktur dan distribusi gas. Midstream dan downstream menjadi dua sektor utama yang akan mendapat perhatian.
Sementara itu, pengembangan jargas diharapkan terus diperluas. Langkah tersebut dapat memberikan alternatif energi bagi masyarakat sekaligus mendukung pengurangan ketergantungan LPG.
Perubahan besar ini juga menunjukkan arah baru pengelolaan BUMN energi. PGN akan semakin difokuskan sebagai tulang punggung transmisi dan distribusi gas nasional.