Mie Goyang Siantar, Kuliner Legendaris yang Bertahan Lintas Generasi
Pematangsiantar – Di tengah munculnya berbagai kuliner modern, Mie Goyang Siantar masih mempertahankan daya tariknya. Sajian mi legendaris ini telah dikenal masyarakat Pematangsiantar selama puluhan tahun.
Bahkan, dalam konten yang dibagikan akun TikTok Beta Makan Medan, Mie Goyang diperkenalkan sebagai kuliner yang jejaknya disebut hampir mencapai satu abad.
Terlepas dari klaim usia tersebut, keberadaan Mie Goyang sebagai salah satu kuliner lama di Pematangsiantar juga tercatat dalam berbagai referensi kuliner. Sajian ini dikenal oleh warga lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke kota tersebut.
Mie Goyang Jadi Kuliner Legendaris Siantar
Nama Mie Goyang Siantar terdengar cukup unik. Namun, nama tersebut memiliki cerita tersendiri.
Salah satu catatan lokal menyebut nama itu berkaitan dengan gerakan sang juru masak ketika mengolah mi. Bahu dan tubuh juru masak terlihat seperti bergoyang saat menyiapkan pesanan. Karena itu, pelanggan kemudian mengenalnya sebagai Mie Goyang.
Sementara itu, sumber lain mengaitkan nama tersebut dengan cita rasanya yang mampu “menggoyang” lidah.
Perbedaan cerita tersebut justru menjadi bagian menarik dari perjalanan kuliner ini.
Tetap Dicari Meski Sudah Puluhan Tahun
Mie Goyang bukan kuliner baru yang muncul karena tren media sosial.
Sejumlah publikasi telah mencatat keberadaannya sebagai makanan yang bertahan selama puluhan tahun di Pematangsiantar. Selain itu, hidangan ini juga kerap masuk dalam daftar kuliner yang direkomendasikan kepada wisatawan.
Salah satu lokasi yang identik dengan Mie Goyang adalah kawasan Pajak Horas Pematangsiantar.
Karena itu, masyarakat yang ingin mencicipinya sering menjadikan kawasan tersebut sebagai tujuan wisata kuliner.
Sajian Mi dengan Isian yang Khas
Mie Goyang memiliki karakter yang berbeda dari sejumlah sajian mi populer lainnya.
Hidangan ini menggunakan mi putih dengan kuah dan berbagai pelengkap. Beberapa versi disajikan bersama potongan daging, hati, bakso, serta udang.
Namun, wisatawan perlu memperhatikan bahan yang digunakan.
Sejumlah referensi menyebut versi tradisional Mie Goyang Siantar sebagai kuliner nonhalal karena menggunakan daging babi. Oleh sebab itu, pengunjung sebaiknya bertanya langsung mengenai bahan makanan sebelum memesan.
Bertahan di Tengah Kuliner Modern
Perjalanan panjang Mie Goyang menunjukkan bagaimana makanan sederhana dapat menjadi bagian dari identitas sebuah kota.
Saat ini, masyarakat memiliki banyak pilihan kuliner. Restoran modern dan berbagai jenis mi kekinian juga terus bermunculan.
Namun, Mie Goyang masih memiliki pelanggan tersendiri.
Selain rasa, unsur nostalgia menjadi salah satu daya tariknya. Bagi sebagian warga Siantar, hidangan tersebut mengingatkan pada pengalaman kuliner bersama keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, popularitasnya tidak hanya bergantung pada tren.
Media Sosial Kembali Mengenalkan Kuliner Lama
Media sosial kini memberikan ruang baru bagi kuliner tradisional.
Konten mengenai Mie Goyang Siantar dapat memperkenalkan makanan tersebut kepada generasi muda. Selain itu, wisatawan dari luar Sumatera Utara dapat mengetahui keberadaannya sebelum datang ke Pematangsiantar.
Fenomena tersebut memberikan keuntungan bagi kuliner lokal.
Makanan yang sebelumnya dikenal melalui cerita masyarakat kini dapat menjangkau audiens yang jauh lebih luas.
Dengan demikian, Mie Goyang tidak hanya menjadi bagian dari cerita kuliner masa lalu. Hidangan ini juga tetap memiliki tempat dalam wisata kuliner Pematangsiantar saat ini.